Monday, February 27, 2012

Andai Abramovich Jadi Pemilik MU

Chelsea
London: Dalam kolomnya pada harian Independent edisi Minggu, 26 Februari 2011, manajer Blackpool—klub championship yang terdegradasi dari kancah premiership di musim lalu—Ian Holloway secara terbuka mengkritik gaya manajemen manajer Chelsea Andre Villas-Boas (AVB). Lebih jauh, Holloway “menampar” pemilik The Blues, taipan asal Rusia, Roman Abramovich, terkait kebijakannya yang kerap gonta-ganti manajer.

Opini keras Holloway kepada AVB dilandasi hingar bingarnya media massa Inggris yang melansir kabar perpecahan di ruang ganti dan bobroknya penampilan Chelsea dalam beberapa minggu terakhir. Bahkan, dalam benak Holloway, pada dua bulan terakhir penampilan Frank Lampard dkk jauh dari standar normal. Sempat muncul spekulasi jika Lampard dkk mempertanyakan kapabilitas AVB.

Holloway menyadari jika kendala terbesar yang dihadapi AVB dalam mengelola atau memenej Chelsea adalah usianya yang tidak begitu jauh dengan sejumlah pemain senior. Dalam konteks manajemen klub, AVB diklaim seperti “bayi”. Karena itu, AVB diwanti-wanti untuk menuntut para pemain bersikap respek dan hormat kepadanya.

“Mengelola klub membutuhkan latihan sehingga Anda dapat belajar hal-hal apa saja yang dapat Anda lakukan. Peraturan utama yang saya pegang selama 15 tahun berkarier melatih klub adalah saya tidak pernah berbicara personal dengan seorang pemain. Jika seorang pemain tampil buruk, saya katakan kepadanya di depan rekan-rekannya. Jika ia berlaku salah di muka umum, maka ia perlu “dijewer” di depan publik pula,” tegas Holloway yang meminta AVB untuk memperlakukan semua pemain sama rata.

Akan tetapi, Holloway mengakui jika faktor terpenting bagi setiap manajer adalah dukungan dari dewan direksi dan pemilik klub. Holloway pun berandai-andai jika Abramovich menjadi Chairman Manchester United di akhir dekade 1980-an, maka manajer Alex Ferguson tidak akan bergelar Sir! “Dalam tiga tahun ia (Ferguson) bakalan dipecat dan mungkin tidak akan pernah menjadi manajer jenius dan terbaik di generasinya,” ujar Holloway.

“Fergie beruntung. Ia memiliki dewan direksi klub yang tahu betul dengan rencana yang tengah dilakukannya. Karenanya, ia diberikan waktu untuk mewujudkan rencana tersebut. Itulah yang dibutuhkan Villas-Boas. Ia butuh dukungan Abramovich secara terbuka. Jika itu terjadi, setiap orang di Chelsea tahu betul dengan posisi AVB,” tandas Holloway.

Selain Chelsea dan AVB, Holloway pun mengkritik keras kebijakan manajer Manchester City Roberto Mancini yang kembali menerima “si anak hilang” Carlos Tevez. “Saya tak percaya Roberto mengizinkan Carlos kembali bergabung dalam skuad. Jika saya manajer City, saya akan membekukannya (Tevez). Apa yang dilakukan Mancini adalah tindakan yang buruk. Masak iya, di saat rekan-rekannya berjuang setengah mati mencari kemenangan demi memburu titel, Carlos dengan seenaknya bermain golf? Saya berani bertaruh. Sir Alex (Ferguson) tidak akan mentolerir sikap Carlos. Pun demikian halnya dengan apa yang terjadi di Chelsea (Lampard dkk mengeluhkan kebijakan Villas-Boas),”terang Holloway.

Holloway pun menengok ke belakang saat Ferguson mendepak (sekaligus) tiga pemain utama Setan Merah saat itu: Mark Hughes, Paul Ince, dan Andrei Kanchelskis. “Ferguson tahu betul dengan apa yang dilakukannya, yaitu datangnya era baru MU yang diperkuat anak-anak muda semacam (David) Beckham, (Paul) Scholes), dan Neville bersaudara. Karena itulah, Ferguson membuat ruang kosong (dengan mendepak Hughes dkk). Lalu, apa yang terjadi? Di musim berikutnya, mereka (Beckham dkk) meraih titel premiership.”

Jadi? Menurut Holloway, hal itu pulalah yang kini sedang dilakukan AVB di Stamford Bridge, yaitu mengusir pemain tua sebagai langkah memberikan ruang kosong bagi para pemain baru yang relatif muda. Guna mendukung rencana AVB, Abramovich wajib menjernihkan situasi dengan merilis pernyataan yang isinya menyatakan “manajer saya (AVB) tetap tinggal”.

“Dominasi Liverpool di dekade 1970 dan 1980-an disebabkan kebijakan pemain dari dalam klub sendiri (akademi atau yunior). Kesuksesan MU adalah tetap memercayai Fergie, pun demikian dengan Arsenal yang setia dengan (Arsene) Wenger. Stabilitas adalah kunci kesuksesan,” pungkas Holloway menyindir kebijakan Abramovich yang sejak 2003 kerap gonta-ganti manajer. Di era Abramovich, sebelum AVB datang, tercatat tujuh manajer datang (ke) dan pergi dari Stamford Bridge.

No comments:

Post a Comment