Jelang Chelsea vs Napoli
London: Chelsea menjadi pengusung terakhir panji Liga Premier Inggris di Liga Champions setelah Arsenal diempaskan AC Milan minggu lalu. Jika gagal membalikkan defisit dua gol berarti Inggris untuk pertama kalinya tanpa wakil di babak perempat final sejak 1996.
Performa wakil Inggris jeblok musim ini. Arsenal menjadi korban terakhir setelah duo Manchester, Manchester United dan Manchester City, tersingkir di fase penyisihan grup. Kini harapan Inggris disandarkan pada The Blues yang takluk 1-3 pada leg pertama di San Paolo.
Skor agregat sementara pantas membuat fans Chelsea ketar ketir. Pun, catatan impresif Napoli pada musim pertamanya di Liga Champions, termasuk menyingkirkan Manchester City. Catatan terakhir, Napoli menang lima kali beruntun di kancah liga domestik. “Kami fokus dan siap karena kami ingin menjaga mimpi Liga Champions tetap hidup,” kata sang kapten Paolo Cannavaro.
Ambisi itu begitu besar. Dua kali mereka mereka berkecimpung di European Cup di era Diego Maradona tapi tidak pernah bisa melaju ke putaran kedua. Napoli memiliki daya gedor mumpuni dengan trisula maut Marek Hamsik, Ezequiel Lavezzi, dan Edinson Cavani. Trio ini pula yang melumat pertahanan Chelsea pada pertemuan pertama di San Paolo.
Chelsea sendiri diterpa masalah internal jelang pertemuan kedua di Stamford Bridge, Rabu (14/3), yakni suksesi di kursi manajer. Roberto Di Matteo dibebani tugas tak ringan sebagai caretaker menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat sang pemilik Roman Abramovich. Menanggapi kondisi yang ada, Di Matteo sangat mewaspadai serangan balik dari Partenopei.
“Kami akan bermain penuh keseimbangan karena mereka memiliki kemampuan serangan balik yang sangat ampuh dan memiliki pemain yang bisa membuat sakit hati lawan,” kata Di Matteo. Ketika mereka datang ke Stamford Bridge, mereka akan menghadapi lawan yang akan menyulitkan. Kami harus percaya diri.”
Di Matteo memberi impresi baik dengan memborong kemenangan di dua partai perdana sejak menduduki kursi panas, kemenangan di FA Cup dan Liga Premier. Juan Mata dan Didier Drogba menjadi pemain andalan dalam mengejar defisit gol. Sementara lini belakang percaya diri setelah kembali diperkuat John Terry.
London: Chelsea menjadi pengusung terakhir panji Liga Premier Inggris di Liga Champions setelah Arsenal diempaskan AC Milan minggu lalu. Jika gagal membalikkan defisit dua gol berarti Inggris untuk pertama kalinya tanpa wakil di babak perempat final sejak 1996.
Performa wakil Inggris jeblok musim ini. Arsenal menjadi korban terakhir setelah duo Manchester, Manchester United dan Manchester City, tersingkir di fase penyisihan grup. Kini harapan Inggris disandarkan pada The Blues yang takluk 1-3 pada leg pertama di San Paolo.
Skor agregat sementara pantas membuat fans Chelsea ketar ketir. Pun, catatan impresif Napoli pada musim pertamanya di Liga Champions, termasuk menyingkirkan Manchester City. Catatan terakhir, Napoli menang lima kali beruntun di kancah liga domestik. “Kami fokus dan siap karena kami ingin menjaga mimpi Liga Champions tetap hidup,” kata sang kapten Paolo Cannavaro.
Ambisi itu begitu besar. Dua kali mereka mereka berkecimpung di European Cup di era Diego Maradona tapi tidak pernah bisa melaju ke putaran kedua. Napoli memiliki daya gedor mumpuni dengan trisula maut Marek Hamsik, Ezequiel Lavezzi, dan Edinson Cavani. Trio ini pula yang melumat pertahanan Chelsea pada pertemuan pertama di San Paolo.
Chelsea sendiri diterpa masalah internal jelang pertemuan kedua di Stamford Bridge, Rabu (14/3), yakni suksesi di kursi manajer. Roberto Di Matteo dibebani tugas tak ringan sebagai caretaker menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat sang pemilik Roman Abramovich. Menanggapi kondisi yang ada, Di Matteo sangat mewaspadai serangan balik dari Partenopei.
“Kami akan bermain penuh keseimbangan karena mereka memiliki kemampuan serangan balik yang sangat ampuh dan memiliki pemain yang bisa membuat sakit hati lawan,” kata Di Matteo. Ketika mereka datang ke Stamford Bridge, mereka akan menghadapi lawan yang akan menyulitkan. Kami harus percaya diri.”
Di Matteo memberi impresi baik dengan memborong kemenangan di dua partai perdana sejak menduduki kursi panas, kemenangan di FA Cup dan Liga Premier. Juan Mata dan Didier Drogba menjadi pemain andalan dalam mengejar defisit gol. Sementara lini belakang percaya diri setelah kembali diperkuat John Terry.
No comments:
Post a Comment