Tottenham Hotspur
London: Sepanjang kariernya di bawah mistar gawang,
kiper gaek Tottenham Hotspur asal Amerika Serikat (AS), Brad Friedel,
sempat menorehkan sejumlah rekor, meraih gelar, dan tampil di ajang
turnamen sepakbola paling bergengsi di kolong langit: Piala Dunia.
Namun, di usianya yang bakal menginjak 41 tahun Mei mendatang, Friedel belum pernah bertanding di ajang kompetisi paling prestisius di Benua Eropa: Liga Champions. Itulah yang kini menjadi target terakhir kiper kelahiran Ohio yang tercatat membela The Stars and Stripes, julukan Timnas AS, dalam 82 pertandingan (caps) itu.
Namun, di usianya yang bakal menginjak 41 tahun Mei mendatang, Friedel belum pernah bertanding di ajang kompetisi paling prestisius di Benua Eropa: Liga Champions. Itulah yang kini menjadi target terakhir kiper kelahiran Ohio yang tercatat membela The Stars and Stripes, julukan Timnas AS, dalam 82 pertandingan (caps) itu.
“Saya tidak pernah bermain di kancah Liga Champions,” aku Friedel. “Ketika pertama kali saya tiba di Liverpool (1997), kami berhasil meraih peringkat ketiga. Namun, saat itu, hanya dua klub teratas yang berhak mendapatkan tiket. Ketika saya bergabung dengan Galatasaray (1995), seminggu sebelum saya membubuhkan tanda tangan, mereka justru tersingkir dari kualifikasi. Jadi, terang saja, jika hal itu kini menjadi target saya dan juga bagi Tottenham,” imbuhnya.
Dalam beberapa jam ke depan, di White Hart Lane, Spurs bakal kedatangan lawan tangguh, juara bertahan Manchester United. Friedel mengakui jika ia dan rekan-rekan setimnya bertekad membuktikan kapabilitas Spurs usai dipermalukan Arsenal 2-5 di Derby London Utara pekan lalu. “Saya tahu atmosfir di ruang ganti. Kami ingin memberi bukti bahwa penampilan kami di laga lawan Arsenal tidak akan terulangi lagi,” tegas Friedel.
Lebih lanjut, Friedel mengklaim jika keberhasilannya sampai saat ini, di usia lanjut, tetap bermain di bawah mistar dan memegang rekor sebagai pemain yang tampil terus menerus di kancah Liga Premier—sebanyak 293 pertandingan—tidak lepas dari faktor keberuntungan. “
Semuanya keberuntungan. Saya sempat bermain hoki es, tenis, bola basket, baseball, dan football Amerika. Tapi, saya cinta sepakbola. Saya terpilih masuk tim sepakbola universitas pun gara-garanya asisten pelatih ketinggalan pesawat. Saya jadi pemain profesional tidak disebabkan penilaian para pemandu bakat atau rekrutmen,” kilah Friedel yang gagal memperkuat Newcastle United saat dilatih Kevin Keegan karena alasan izin kerja.
Lebih lanjut, Friedel menilai skuad asuhan Harry Redknapp saat ini mirip dengan Liverpool di periode akhir dekade 1990-an. “Tahun pertama bergabung ke Anfield, Liverpool nyaris mendapatkan gelar premiership. Kami mempunyai sekumpulan pemain dengan berkarakter menyerang dan tengah menginjak masa keemasannya, seperti Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Paul Ince, Karl-Heinze Riedle, Patrick Berger. Lalu, datang Michael Owen dan Steven Gerrard. Sangat mirip dengan skuad yang kami miliki saat ini,” puji Friedel.

0 comments:
Post a Comment