Jelang Barca vs Madrid
SportPoin, Barcelona: Mantan pengadil La Liga, Raul Garcia de Loza menilai duel klasik di ranah Spanyol, yaitu El Clasico
antara dua klub elite Barcelona dan Real Madrid, merupakan pertandingan
yang paling sulit untuk dipimpin ketimbang partai-partai lainnya. Di
mata Garcia De Loza, hanya final Liga Champions yang lebih sulit.
“Sangat spesial artinya jika kita ditunjuk menjadi wasit di laga El Clasico. Siapapun wasitnya yang berkata sebaliknya, pastinya ia berbohong. Anda tidak dapat membandingkan sebuah partai Clasico dengan pertandingan lainnya. Sangat sulit bagi seorang wasit untuk menjalani laga seperti itu. Tidak ada tim yang membuat Anda dengan mudah untuk menjalaninya,” terang Garcia de Loza.
“Sangat spesial artinya jika kita ditunjuk menjadi wasit di laga El Clasico. Siapapun wasitnya yang berkata sebaliknya, pastinya ia berbohong. Anda tidak dapat membandingkan sebuah partai Clasico dengan pertandingan lainnya. Sangat sulit bagi seorang wasit untuk menjalani laga seperti itu. Tidak ada tim yang membuat Anda dengan mudah untuk menjalaninya,” terang Garcia de Loza.
“Bagi saya sendiri, pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona jauh
lebih penting ketimbang pertandingan lainnya. Menjadi wasit di laga El Clasico
jauh lebih sulit dibanding menjadi wasit di partai bergengsi lainnya,
semisal semifinal Liga Champions,” ujar wasit berusia 65 tahun itu.
“Anda harus berada dalam kondisi yang top untuk mengadili laga Clasico. Anda pun butuh karakter dan kepribadian. Sangat krusial artinya untuk tidak terlibat dengan apa yang menjadi pertikaian di antara mereka. Tidak penting untuk mendengarkan apa yang dikatakan (Jose) Mourinho, pun demikian pula dengan (Pep) Guardiola,” imbuhnya.
Belakangan setelah Mourinho menangani Los Blancos, laga El Clasico berubah menjadi partai brutal dan kerap diwarnai kontroversi yang membuat sejumlah pemain diganjar kartu merah alias diusir ke luar lapangan. Garcia de Loza mengaku di zamannya, tak ada seorang wasit pun yang menghendaki jika pertandingan diakhiri dengan kondisi timpang.
“Targetnya adalah menyelesaikan pertandingan dengan 22 pemain masih berada di lapangan. Anda harus menyadari jika tidak semua pemain menyikapinya dengan sama. Sebagian bertindak lebih agresif ketimbang lainnya. Yang perlu Anda lakukan adalah memutuskan batasannya.”
Seperti diketahui, jika tidak ada aral melintang, El Clasico jilid kedua di musim ini antara Barca dan Madrid akan berlangsung di Nou Camp, Sabtu (21/4) besok malam waktu setempat atau Minggu (22/4) dinihari WIB. Bagi Barca, tidak ada kata lain selain meraih kemenangan guna memperpendek jaraknya dengan Madrid yang kini unggul empat poin.
“Anda harus berada dalam kondisi yang top untuk mengadili laga Clasico. Anda pun butuh karakter dan kepribadian. Sangat krusial artinya untuk tidak terlibat dengan apa yang menjadi pertikaian di antara mereka. Tidak penting untuk mendengarkan apa yang dikatakan (Jose) Mourinho, pun demikian pula dengan (Pep) Guardiola,” imbuhnya.
Belakangan setelah Mourinho menangani Los Blancos, laga El Clasico berubah menjadi partai brutal dan kerap diwarnai kontroversi yang membuat sejumlah pemain diganjar kartu merah alias diusir ke luar lapangan. Garcia de Loza mengaku di zamannya, tak ada seorang wasit pun yang menghendaki jika pertandingan diakhiri dengan kondisi timpang.
“Targetnya adalah menyelesaikan pertandingan dengan 22 pemain masih berada di lapangan. Anda harus menyadari jika tidak semua pemain menyikapinya dengan sama. Sebagian bertindak lebih agresif ketimbang lainnya. Yang perlu Anda lakukan adalah memutuskan batasannya.”
Seperti diketahui, jika tidak ada aral melintang, El Clasico jilid kedua di musim ini antara Barca dan Madrid akan berlangsung di Nou Camp, Sabtu (21/4) besok malam waktu setempat atau Minggu (22/4) dinihari WIB. Bagi Barca, tidak ada kata lain selain meraih kemenangan guna memperpendek jaraknya dengan Madrid yang kini unggul empat poin.

No comments:
Post a Comment