Monday, March 12, 2012

Rodgers yang Rendah Hati

Swansea City
Swansea: Di antara tiga tim promosi yang berhak bertanding di kancah Liga Premier musim ini, Swansea City pantas mendapat apresiasi lebih. Selain mampu bertengger di papan tengah, pola permainan yang diusung Joe Allen dkk berbeda dengan tim-tim pemula pada umumnya. Di bawah arahan Brendan Rodgers, The Swans lebih mengutamakan possesion football dari kaki ke kaki. Aksi Allen dkk lebih menggelegar ketika tampil di depan publiknya sendiri, Liberty Stadium.

Walhasil, sejauh ini dari 28 pekan yang telah dilalui, Swansea termasuk tim yang paling sedikit menuai kekalahan saat laga kandang, yaitu dua kali dikalahkan Manchester United 0-1 dan takluk 2-3 dari Norwich City. Di Liberty, Swansea mampu menggulingkan tim papan atas semisal Arsenal dan menahan imbang Chelsea dan Tottenham Hotspur.
Terakhir, kemarin sore, Swans mencatat kemenangan terbaik di musim ini usai mempecundangi tim kandidat jawara Manchester City. Karenanya, dengan menyisakan 10 pertandingan, dengan mengoleksi 36 poin, hampir dapat dipastikan Swansea bakal bertahan di kancah Liga Premier musim depan.

Rodgers menunjuk keberhasilan timnya tersebut tak lepas dari kekalahan 0-4 dari The Citizens di pekan pertama, 15 Agustus 2011. “Kekalahan itu menjadi momen yang menentukan. Saya katakan kepada para pemain bahwasanya selama satu jam kami dapat bermain dengan gaya kami sendiri dan menyulitkan tim-tim elite. Jadi, yang kami butuhkan adalah keyakinan untuk terus bermain dengan pola permainan kami sendiri dan berkembang selaras dengan perjalanan kompetisi,” ujar Rodgers yang didaulat menjadi Premier League Manager of the Month pada Februari lalu.
“Apa yang kami tampilkan semalam merupakan buah dari progres kerja keras kami selama ini. Kami pun mendapat dukungan yang luar biasa dari para fans. Stadium hanya berkapasitas 20 ribu penonton. Namun, rasanya kami didukung 50 ribu suporter. Saya merasa beruntung dan mendapat berkah dapat bekerja di sini,” tutur Rodgers.
Meski mampu mengalahkan tim-tim elite, Rodgers yang notabene mantan manajer tim cadangan Chelsea di era Jose Mourinho, tak mau besar kepala dengan prestasi yang telah diukir Allen dkk. Dengan rendah hati Rodgers menampik isu Chelsea dan mengakui jika dirinya masih dalam tahap magang atau proses pembelajaran.
“Saya masih belajar (menjadi manajer). Saya masih berusia 39 tahun dan bekerja bersama klub yang mempercayai pola kerja yang saya lakukan. Motivasi saya bukanlah fulus semata. Saya ingin terus bekerja bersama para pemain dan suporter yang menilai sayalah sosok yang pantas bagi mereka. Lagipula, keluarga saya betah tinggal di sini. Kami semua ingin melihat klub ini berkembang,” tandas Rodgers.

No comments:

Post a Comment