Manchester United
Eskpresi manajer Manchester United Sir Alex Ferguson sebelum kick-off
laga EPL antara MU dan Swansea Swansea City di Old Trafford, 6 Mei 2012.
SportPoin, Manchester: Di atas kertas, sangat tipis
kemungkinan bagi Manchester United untuk dapat mempertahankan gelarnya
di ajang Liga Premier Inggris musim ini. Kemenangan saat mengunjungi
Stadium of Light, markasnya Sunderland, di laga pamungkas kompetisi yang
akan berlangsung serentak pada Minggu (13/5) sore, tidak akan berarti
banyak andaikata rivalnya Manchester City pun berhasil meraih tambahan
tiga poin saat menjamu tim yang sedang terancam degradasi, Queens Park
Rangers.
Lalu? Satu-satunya harapan bagi Setan Merah, dengan asumsi Wayne Rooney dkk meraih kemenangan dari The Black Cats, adalah berharap The Hoops, julukan QPR, dapat menahan laju The Citizens. Hasil imbang di Etihad Stadium pun sudah cukup bagi MU. Apalagi, kemenangan.
Karena itulah, menjelang laga pamungkas yang sangat menentukan itu, manajer MU Sir Alex Ferguson kembali “memprovokasi” mantan anak didiknya di Old Trafford, Mark Hughes. Ferguson berharap QPR yang tidak diunggulkan bakal mampu mencuri poin dan bahkan membuat kejutan dengan menumbangkan pasukan Roberto Mancini di kandangnya sendiri.
Ferguson mengajak QPR berkaca pada pengalamannya 29 tahun lalu. Saat itu Fergie masih menangani klub Skotlandia, Aberdeen. Setelah berhasil mengalahkan Bayern Muenchen di babak 8 besar European Cup Winners Cup, Aberdeen melangkah ke partai puncak dan bertemu dengan raksasa Spanyol Real Madrid yang sebelumnya menyingkirkan Inter Milan. Laga pamungkas digelar di Stadion Ullevi, Gothenburg, 11 Mei 1983.
“Saya membawa tim kecil bernama Aberdeen untuk mengalahkan Real Madrid di partai final Eropa dengan mengandalkan 11 pemain lokal dan yang tertua berusia 27 tahun. Itulah tantangan yang dihadapi QPR sekarang, pergi (menghadapi City) dan melakukan apa yang telah dilakukan Aberdeen,” tegas Ferguson.
Di laga tersebut, Aberdeen, diperkuat Alex McLeish yang kini menjadi manajer Aston Villa, berstatus underdog. Namun, gaya khas dari Ferguson untuk mengobarkan semangat McLeish dkk terbukti jitu. Lewat babak perpanjangan waktu Aberdeen unggul 2-1 dari Los Blancos yang saat itu dilatih legenda Madrid dan Spanyol, Alfredo Di Stefano. “Bagi klub sekecil Aberdeen, kemenangan itu luar biasa, tak dapat dipercaya,” aku Fergie.
0 comments:
Post a Comment