Friday, July 6, 2012

Van Persie Bikin "Ribut" Pemegang Saham Klub

Arsenal 
Kapten dan striker Arsenal Robin van Persie ketika berlaga kontra Borussia Dortmund dalam partai lanjutan Grup F Liga Champions di Emirates Stadium, London, 23 November 2011.







SportPoin, London: Suasana di Emirates Stadium, markasnya Arsenal, kian panas menyusul penolakan kapten reguler dan striker andalan di musim lalu Robin van Persie terhadap proposal perpanjangan kontrak barunya di Emirates Stadium. Hal mana membuat pemegang saham kedua terbesar klub asal Uzbekistan, Alisher Usmanov, mengkritik keras kebijakan manajemen klub yang dikendalikan pemegang saham terbesar, taipan asal AS, Stan Kroenke.

Usmanov, 58 tahun, membeli 14,65 persen saham The Gunners milik mantan Wakil Chairman David Dein pada 2007. Empat tahun kemudian, Usmanov total memiliki 29,35 persen saham. Sementara, Kroenke, 64 tahun, mempunyai 66,82 persen atau pemegang saham mayoritas. Kritikan tajam Usmanov dilontarkan dalam surat terbukanya kepada Arsenal.

“Sekali lagi, kami akan terancam kehilangan pemain andalan dan sangat penting bagi klub. Sebab, kami tidak dapat memberikan kepercayaan padanya bahwasanya kami dapat meraih gelar. Dimanakah orang yang bertanggung jawab ini dapat memastikan hal ini tidak akan terulang kembali?” tanya Usmanov.

Dalam suratnya itu, Usmanov menuding Chief Eksekutif Arsenal Ivan Gazidiz memberikan kesan kepada para suporter klub bahwsanya perusahaan yang dikelolanya, The Red and White, mempunyai hubungan yang buruk dengan manajemen klub.

“Dalam pandangan kami, sangat jelas jika Anda berusaha mengalihkan perhatian daripada masalah yang mendasar dari klub ini. Hal itu adalah model finansial, kurangnya investasi dan arah masa depan dan strategi klub. Tuan Kroenke disodorkan visi dari dewan direksi jika klub bakal sukses tanpa perlu menanam investasi lebih lanjut,” tegas Usmanov.

“Konsekuensinya, manajer bukan para pemegang saham, yang harus berhadapan dengan kebijakan ikat pinggang klub, menanggung benar dari pembayaran uang stadion dengan menjual pemain terbaik klub dan berupaya mencari penggantinya dengan harga yang murah. Kebijakan itu tentunya mengarah pada hilangnya para pemain terbaik klub, utamanya pada klub kompetitor, dan bahkan memicu pertanyaan dari para pemain tentang masa depan dan ambisi klub itu sendiri. Situasi terkait Robin van Persie adalah puncaknya.”

Sejak 2004, Arsenal di bawah arahan Arsene Wenger tak kunjung mampu meraih gelar Liga Premier. Terakhir, The Gunners menggondol gelar FA Cup 2005. Dalam tujuh tahun terakhir, Arsenal selalu gagal menembus peringkat dua besar. Sejumlah pemain inti pun hengkang, seperti Thierry Henry, Cesc Fabregas, Emmanuel Adebayor, Kolo Toure, Gael Clichy, dan Samir Nasri.

Usmanov menilai klub sejatinya harus mampu menyodorkan tawaran kontrak yang minimal sama besar dengan yang disodorkan klub kompetitor. “Sebagai klub top, minimal, jika tidak bisa melampaui, menyamai tawaran yang dilontarkan klub-klub lain yang berusaha menggoda para pemain terbaik untuk hengkang dan memberikan visi (klub) yang lebih menarik di masa depan.”

Sejauh ini, Wenger baru berhasil mendapatkan dua muka baru, yaitu striker Montpellier Olivier Giroud dengan fee ditaksir mencapai 12 juta pound dan winger Jerman Lukas Podolski dengan fee sekitar 11 juta pound. Karenanya, Usmanov mendesak klub untuk membelanjakan dananya lebih besar guna menyamai investasi yang dilakukan Real Madrid, Barcelona, Chelsea, dan Manchester City. Jika tidak, di mata Usmanov, prestasi Arsenal kian terpuruk.

Pada paragraf terakhir dalam surat terbukanya itu, Usmanov mengaku masih sangat berminat membeli saham lebih banyak dan bertekad mempertahankan jumlah sahamnya demi “kepentingan anggota keluarga untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak”.

0 comments:

Post a Comment