Arsenal
SportPoin, London: Menolak menandatangani
perpanjangan kontrak merupakan awal mula “perceraian” antara pemain dan
klub yang mempunyai hak kepemilikannya. Sikap tersebut ditunjukkan
striker Timnas Belanda Robin van Persie saat dirinya mendapatkan
proposal kontrak baru dari Arsenal, klub yang mengikatnya di Emirates
Stadium sampai 30 Juni 2013. Van Persie menampik tawaran baru tersebut.
Arti kata, Van Persie sejatinya membuka pintu perceraian.
Nah, tidak ada yang menampik jika dengan perceraian tersebut Arsenal bakal mengalami kerugian yang sangat besar. Mengapa? Sebab, Van Persie, selain jadi kapten reguler tim, di musim lalu tampil sangat gemilang. Kontribusinya sebanyak 30 gol dari 38 partai di ajang premiership mengantarkan The Gunners meraih peringkat ketiga alias tiket otomatis babak penyisihan grup Liga Champions. Jumlah itu pun membuat Van Persie didaulat jadi top skorer.
Namun, tidak semua pihak merugi dengan (bakal) hengkangnya Van Persie dari Emirates. Sebaliknya, kepergian mantan penggedor Feyenood Rotterdam yang bakal berusia 29 tahun pada 6 Agustus mendatang, itu justru membawa berkah tersendiri bagi penyerang Timnas Maroko yang baru menjadi punggawa The Gunners sejak 1 Juli 2010: Marouane Chamakh.
Setelah memulai debutnya bersama skuad asuhan Arsene Wenger dengan gemilang: mencetak 10 gol—tujuh gol di antaranya di premiership—dalam empat bulan pertamanya tinggal di London, grafik penampilan Chamakh justru melorot drastis. Chamakh hanya kerap duduk di bangku cadangan dan tak jarang berstatus sebagai pemain pelengkap alias tak kunjung dimainkan sampai akhir pertandingan.
Karenanya, kepergian Van Persie bakal jadi kesempatan kedua bagi Chamakh untuk membuktikan kualitasnya. “Ya, memang benar,” jawab Chamakh dengan tegas ketika ditanya kemungkinan keuntungan yang bakal didapatkannya jika Van Persie jadi pergi.
“Jika saya tetap berada di sini bersama Arsenal, saya akan memberikan yang terbaik bagi tim. Musim lalu sangat sulit dijalani. Kami bermain hanya dengan seorang striker yang menjadi pemain terbaik di Eropa. Tidak ada yang dapat saya lakukan. Saya marah, sebab, seharusnya saya memiliki kesempatan bermain yang lebih. Tapi, terkadang Anda memang tidak mendapatkannya,” imbuh Chamakh berapi-api.
Lalu? “Saya berharap musim ini (depan) saya akan lebih mempunyai kesempatan bermain dibanding musim lalu. Saya belum berbicara dengan manajer (Wenger). Tapi, secepatnya itu akan saya lakukan. Dalam enam bulan pertama setelah meneken kontrak saya tampil cukup sering. Namun, sesudahnya, kesempatan itu menipis. Sekarang saya berharap musim ini bakal menjadi musim yang bagus baik bagi saya sendiri maupun bagi klub. Ya, saya butuh kepercayaan lebih. Tapi, untuk bisa percaya diri, saya butuh bermain lebih sering,” tandas Chamakh.

0 comments:
Post a Comment