Tuesday, February 21, 2012

Laga Argentina-Peru di PD 1978 Diinvestigasi?

Piala Dunia 1978
Buenos Aires: Salah satu pertandingan kontroversial sepanjang sejarah putaran final Piala Dunia (PD) adalah partai terakhir penyisihan Grup B putaran kedua PD 1978 antara Argentina vs Peru yang berlangsung di Estadio Gigante de Arroyito, Rosario, 21 Juni 1978. Tim Tango secara perkasa menghancurkan perlawanan La Blanquirroja dengan skor sangat telak 6-0 (2-0).

Kemenangan besar tersebut membuat Argentina tampil sebagai juara grup menyisihkan rival utamanya Brasil dengan keunggulan selisih gol. Sejarah mencatat, Tim Tango lolos ke final dan tampil sebagai juara dunia untuk kali pertama usai menundukkan mantan finalis PD 1974 Belanda 3-1 melalui babak perpanjangan waktu.

Yang jadi masalah, kemenangan besar Argentina atas Peru tersebut diragukan sejumlah kalangan. Pasalnya, saat itu Peru yang diperkuat legenda Teofilo Cubillas dinilai sebagai salah satu tim yang bersinar di ajang PD 1978. Desas-desus pun muncul jika sebelumnya Tim Tango telah melakukan kongkalikong dengan Peru.

Kontroversi tersebut kembali muncul di permukaan menyusul datangnya klaim dari mantan senator Peru, Genaro Ledesma Izquieta, yang menuding jika hasil pertandingan antara Mario Kempes dkk dan Cubillas dkk telah diatur oleh diktator Argentina Jenderal Jorge Rafael Videla dan penguasa Peru, Francisco Morales Bermudez.

Dalam kesepakatan rahasia tersebut, Argentina setuju memberikan bantuan senilai 50 juta dolar AS, dicairkannya rekening bank Peru, dan hukuman penjara bagi 13 pemberontak Peru (militer) yang berada di Argentina. Sebagai imbalannya, Peru bersedia gawang timnasnya dijebol minimal empat kali oleh Kempes dkk. Saat itu, Argentina memang diwajibkan meraih kemenangan dengan selisih minimal empat gol guna melangkahi Brasil.

Beberapa hari yang lalu, harian Argentina El Tribuno dan Buenos Aires Herald juga mengungkit kembali peristiwa 33 tahun yang silam tersebut seraya mengklaim jika FIFA bakal menggelar inquiry—langkah awal menuju investigasi—terkait pertandingan kontroversial tersebut. FIFA sendiri sampai saat ini disebut-sebut membantah bakal melakukan investigasi.

Yang menarik, 20 tahun seusai peristiwa tersebut berlangsung, mantan kiper andalan Peru di PD 1978, Ramon “El Loco” Quiroga yang lahir di Cordoba, Argentina, mengaku saat itu dirinya mempertanyakan komposisi tim asuhan Marcos Calderon saat menghadapi Kempes dkk. Bahkan, Quiroga menuding rekannya, bek Rudolfo Manzo tampil lembek. “Ia (Manzo) sama sekali tak berniat membantu lini pertahanan,” tandas Quiroga.

0 comments:

Post a Comment