Thursday, May 10, 2012

Di Matteo Pesimistis Bisa Bertahan

Chelsea
Chelsea's Italian caretaker manager Roberto Di Mateo attends a press conference at Estadio da Luz in Lisbon, Portugal on March 26, 2012 ahead of the UEFA Champions League football match between Benfica and Chelsea on March 27






SportPoin, London: Sejak resmi mengambil alih kepemilikan klub pada Juni 2003, owner Chelsea, Roman Abramovich, baru merasakan nikmatnya mencicipi gelar domestik: Liga Premier sebanyak tiga kali (2004-2005, 2005-2006, dan 2009-2010), empat kali FA Cup (2006-2007, 2008-2009, 2009-2010, dan 2011-12), dua kali Piala Liga atau Carling Cup (2004-2005 dan 2006-2007), dan dua trofi FA Community Shield (2005 dan 2009).

Karenanya sang taipan asal Rusia itu sangat kebelet klubnya bakal mampu mengantarkan gelar paling bergengsi di Eropa: trofi Liga Champions. Tak heran jika pasca-hengkangnya Jose Mourinho, Abramovich rela gonta-ganti manajer dan tak bosan mengucurkan ratusan juta pound dari kantongnya untuk menjadikan Chelsea sebagai kampiun di Benua Biru. Buktinya, Avram Grant ditendang dari jabatannya menyusul kegagalannya mengantarkan John Terry dkk menjuarai Liga Champions di musim 2007-2008, kalah adu penalti dari Manchester United.

Kini, Abramovich kembali berkesempatan memenuhi obsesinya seiring dengan lolosnya Chelsea ke partai puncak Liga Champions musim ini. Seperti diketahui, di laga final, Sabtu (19/5) pekan depan, The Blues akan bertemu dengan favorit juara Bayern Muenchen yang diuntungkan bermain di kandang sendiri, Allianz Arena. Publik pun hampir sepakat jika Chelsea mampu kembali memutarbalikkan prediksi seperti yang ditunjukkan saat menghadapi Barcelona di babak semifinal, alias tampil sebagai juara, masa depan caretaker tim Roberto Di Matteo bakal cerah. Dengan kata lain, publik menengarai jika Chelsea berhasil menjadi juara Eropa, maka status Di Matteo bakal dipermanenkan.

Namun, menurut sumber di Stamford Bridge, justru Di Matteo berpikiran sebaliknya. Meskipun Chelsea mampu mengalahkan Muenchen, Di Matteo merasa dirinya tetap berstatus manajer sementara dan Abramovich bakal menunjuk sosok manajer permanen baru di musim panas mendatang. “Robbie (Di Matteo) sangat terdeterminasi untuk meraih kejayaan (kemenangan) lawan Bayern, meskipun ia sendiri angkat tangan soal masa depannya terlepas dari apa yang terjadi di Muenchen. Ia telah mencoba untuk berbicara dengan petinggi klub soal latihan pramusim sebagai persiapan menjelang kompetisi musim depan. Hasilnya, ia hanya sedikit menerima penjelasan,” ujar sumber.

Karenanya, “Hal itu membuat Robbie sangat yakin jika keberadaannya hanyalah sebagai manajer sementara, mengisi posisi sampai rekrutmen manajer permanen ditentukan. Tentunya, ia sangat kecewa usai melakukan keajaiban sejak mengambil alih kendali tim dari tangan Andre Villas-Boas. Kemenangan di FA Cup sangat spesial baginya. Sebab, pada 1997 ia memenanginya bersama Chelsea saat masih menjadi pemain. Kini, ia dapat meraih gelar saat menjadi manajer. Hal itu membuatnya jadi pahlawan di mata para fans dan pemain. Namun, tetap saja, kekuatan di atas (Abramovich) yang bakal menentukan,” tegas sumber.

Lalu, siapa yang bakal ditunjuk Abramovich untuk menangani Chelsea di musim depan? Dua target utama Pep Guardiola dan Jose Mourinho telah menyatakan penolakannya. Walhasil, mata Abramovich kini tertuju pada pelatih Prancis Laurent Blanc dan mantan pelatih Timnas Inggris Fabio Capello.

0 comments:

Post a Comment