Monday, August 6, 2012

Martabat Conte Tak Ternilai Harganya

Juventus
SportPoin, Turin: Persepakbolaan Italia kembali digegerkan dengan skandal pengaturan skor pertandingan jilid dua atau yang lebih dikenal dengan sebutan Scommessopoli. Tak tanggung-tanggung, selain klub, puluhan pemain dijadikan terdakwa dan terancam menerima skorsing berat. Tak luput pelatih Juventus Antonio Conte pun masuk sasaran menyusul tudingan atas keterlibatannya dalam skandal tersebut saat dirinya masih menangani Siena di musim 2010-2011.

Awalnya, Conte bersedia meraih kompromi dengan jaksa penuntut Stefano Palazzi, dengan menyetujui opsi plea bargain atau permohonan keringanan hukuman selama tiga bulan dan denda 200 ribu euro (Baca: Conte Siap Diskors Tiga Bulan). Namun, apa daya, pengadilan atas rekomendasi Komisi Disiplin Federasi Sepakbola Italia (FIGC) menampik kompromi tersebut (Baca: Conte Terancam Diskors Setahun!).

Terbit kemungkinan jika Conte dapat mereduksi ancaman skorsing, yaitu dengan mengajukan plea bargain kedua yaitu skorsing selama empat bulan dan denda 100 ribu euro. Conte menampiknya. Jaksa kemudian menyodorkan opsi lanjutan, skorsing lima bulan. Lagi, Conte menolaknya. Kompromi gagal dicapai. Jaksa “murka” dan mengajukan tuntutan berat yaitu skorsing selama 15 bulan (Baca: Conte Maju ke Meja Hijau).

Dalam keterangannya kepada Sky Sport Italia, pengacara Conte, Antonio De Rensis mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menurut De Rensis, langkah penuh risiko yang dilakukan kliennya tak lepas dari keyakinan Conte sendiri bahwasanya dirinya sama sekali tidak bersalah dan tidak terlibat dalam Scommessopoli.

“Ia selalu sangat konsisten. Ia menegaskan ingin menghormati kerja jaksa penuntut dan hakim. Meskipun situasinya menyulitkan Juventus dan keluarganya, ialah sosok yang justru memberikan kami kekuatan. Sebanding dengan kekuatan dukungan yang datang dari Presiden Klub Andrea Agnelli,” tegas Rensis.

Kalau merasa tidak bersalah, lalu mengapa Conte mau menerima plea bargain? “Plea bargain dalam pengadilan olahraga adalah salah satu kesempatan. Dan saya dapat memberikan jaminan atau garansi bahwasanya sangat sulit untuk meyakinkan Conte menerima skorsing tiga bulan. Ketika opsi tersebut gugur, maka opsi-opsi lainnya pun berguguran. Sebab, martabat Antonio Conte tak ternilai harganya,” tandas Rensis.

Rensis mengakui jika Conte sangat terganggu dan terpukul dengan kasus ini. “Ia (Conte) selalu mendahulukan kepentingan tim di atas segala-galanya, meskipun hal itu harus melampaui harkat dan martabatnya. Apa yang membuat Conte sakit hati adalah ia dicap sebagai sosok yang tidak fair, padahal setiap orang tahu benar jika ia merupakan figur yang sebaliknya (fair). Ia sosok yang berhati baja dan jujur. Siapapun yang tahu dan mengenalnya, saya yakin mereka akan mencintainya,” pungkas Rensis.

Rencananya, setelah opsi plea bargain gugur dan jaksa Palazzi menuntut skorsing 15 bulan, pengadilan Komisi Disiplin akan membuat keputusan final pada 8-10 Agustus mendatang,

0 comments:

Post a Comment